Selasa, 13 Januari 2009

Menangkal KUTU AIR


Menangkal KUTU AIR ;
Tentu terasa sangat mengesalkan ketika aktivitas kita terganggu karena kaki gatal-gatal diserang kutu air. Hal ini pula yang terjadi pada seorang Mom WRM, sehingga ia pun melontarkan pertanyaan kepada forum milis. "Penyakit kutu air apa sih obatnya?" tanyanya.

Dalam menangkal kutu air, beberapa menyarankan untuk menggunakan beberapa produk salep kulit seperti Salep 88 atau Fungiderm, tetapi menurut mom yang bersangkutan tadi si penyakit kutu airnya "bandel" dan tidak mau hilang dengan salep-salep tersebut. "Bagaimana dong..." keluhnya.

Menurut masukan dari yang lain, sangat mungkin penyakit yang dimaksud tadi tertukar antara kudis yang memang diakibatkan oleh kutu sarcoptes scabei dengan eksim atau alergi kulit, sebab penampakan keduanya hampir sama dan seringkali disebut dengan penyakit "kutu air". Ia kemudian menjelaskan tentang eksim.

Eksim atau alergi kulit ini timbul jika :
  • bagian tersebut lembab karena keringat
  • sering terkena bahan yang mengiritasi (latex, serbuk, sabun, dsb)
  • kekeringan (karena sering kena sabun, mandi selalu pakai air panas, udara kering, dsb).

Pada eksim : " bintik-bintik yang berisi air " itu sebenarnya reaksi kulit terhadap hal-hal yang mencetuskan alergi tersebut.
Jika dalam keluarga ada riwayat alergi (mis. asma, alergi sinusitis, dsb) maka kemungkinan untuk mengidap alergi kulit juga besar.

Serbuk/debu dapat mencetus alergi misalnya pada kasus :
  • sarung tangan untuk mencuci piring sering ditaburi serbuk seperti bedak, nah ini juga bikin munculnya eksim di jari (jadi pilih yang latex-free dan powder-free).
  • lantai yang tidak dipel sehingga ada lapisan debu, sebaiknya selalu pakai sandal
  • ruangan yang lantainya dari bahan latex.

Bagi penderita eksim ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
  1. saat mencuci piring harus pakai sarung tangan (sebaiknya bukan dari bahan latex)
  2. mandi menggunakan sabun yang hypoallergenic dan fragrance-free
  3. hindari memakai sepatu tertutup saat udara panas dan lembab
  4. setiap kali habis mandi (atau habis terkena sabun), daerah yang sering terkena eksim segera di-lap dan diolesi krim pelembab, karena intinya eksim itu muncul jika kelembaban kulit hilang atau lembab karena keringat (jadi tidak boleh kering, tapi juga tidak boleh basah).

Ia menambahkan pengalaman pribadinya. Menurutnya, "Menggunakan krim pelembab juga tidak boleh sembarangan. Krim yang umumnya ada di pasaran malah memperparah eksim karena bahan-bahan tambahan yang ada di dalamnya. Pengalaman saya sejauh ini mencoba puluhan jenis krim (mulai dari yang biasa sampai yang dijual di apotik), maka yang paling cespleng cuman satu : white petroleum jelly dengan kandungan 100% white petrolatum, USP. Harganya murah pula (plus terbukti cespleng untuk mengurangi stretch-mark pada kehamilan). Saya tidak tahu kalau di negara lain istilahnya apa.

Terus terang saya tidak mau lagi pakai salep-salepan (apalagi yang mengandung kortikosteroid). Kulit saya menjadi "tipis" kemerahan, gampang sobek, buntutnya menjadi kehitaman. Setiap kali muncul eksim, secara rajin saya olesi dengan white petroleum jelly itu. Memang tidak seketika sembuh, memerlukan waktu 1-2 bulan.

Tapi ada kelebihannya :
kalau pakai salep, kulit menjadi merah dan kehitaman, bahkan menjadi addict (kalau tidak dikasih salep jadi gatal). Kalau pakai jelly itu, eksimnya lenyap, kulitnya kembali seperti semula. Lapi pula, percuma pakai salep kalau pencetus alerginya tidak dihindari. Kambuh lagi, kambuh lagi..."

Seorang mom lain yang berprofesi dokter melengkapi keterangan tersebut. Ia mengatakan, bahwa sebenarnya istilah eksim sudah lama ditinggalkan untuk kelainan jenis kulit ini, dan diganti dengan nama Dermatitis.

Dermatitis sendiri ada berbagai macam, yang disebutkan tadi adalah dermatitis atopi dan dermatitis kontak. Dermatitis atopi memang didasari oleh alergi. Bila ada riwayat atopi dalam keluarga seperti asma, rhinitis, urtikaria, maka akan memperbesar kejadian dermatitis atopi. Dan letaknya/munculnya kelainan kulit bisa di mana saja di bagian tubuh.

Gejalanya seperti yang sudah disebutkan misalnya kulit kemerahan, bintik-bintik merah, kadang berisi air, dan basah, rasanya gatal. Paling terasa nyaman jika diberi salep yang mengandung steroid, tapi dokter di sini hati-hati sekali dengan salep bersteroid jadi biasanya diberi salep yg lebih ringan, yang fungsinya mengurangi peradangan(merah) dan gatal, dan juga mengobati penyakit atopinya. Biasanya dermatitis atopi pencetusnya adalah hal yang membuat dia alergi.

Misalnya makanan tertentu, jadi bila dia makan makanan tertentu, maka beberapa saat kemudian timbul dermatitis, atau kontak dengan zat alergen secara langsung, seperti debu, sabun atau yang lainnya. Mencegahnya tentu saja dengan menghindari pencetus alias alergen tadi.

Sedangkan dermatitis kontak, tidak berhubungan dengan penyakit atopi, tapi pada beberapa orang kulitnya sangat sensitif terhadap zat-zat tertentu. Misalnya bahan imitasi, tali jam tangan, sabun atau zat-zat kimia tertentu. Lesi/kelainan kulit muncul sesuai dengan tempat kontak dengan zat tersebut dan hanya terjadi bila kontak dengan zat itu saja, berbeda dengan dermatitis atopi yang bisa jadi lesi/kelainan kulit muncul sama sekali tidak berhubungan langsung dengan alergennya.

Terapinya, yang utama adalah hindari kontak dengan zat tersebut. Obat-obatan pada prinsipnya sama saja, diberikan salep antiinflamasi dan untuk mengurangi gatal serta mempertahankan kelembaban. Dua jenis penyakit ini mirip sekali, dan kadang dianggap sama aja, padahal tentu saja berbeda.

"Tetapi jika keluhannya sudah lama dan mengganggu, sebaiknya dibawa ke dokter kulit saja langsung" tambahnya.

sumber -WRM Indonesia

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, berbagilah informasi ini dengan teman dan saudara Anda melalui Share Link Media Sosial di bawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar