Rabu, 01 Juli 2009

Krisis Usia Pertengahan


Krisis Usia Pertengahan;
Gangguan mudah lelah, sulit konsentrasi, gampang mengantuk, merupakan sebagian dari gejala andropause. Namun, gejala itu biasanya terjadi pada pria yang telah berusia 60-an tahun. Jika gejala itu terjadi pada usia 45-an, apa penyebabnya?

Bukan Andropause
Beberapa keluhan Anda, yaitu mudah lelah, sulit berkosentrasi, dan cepat mengantuk memang merupakan sebagian gejala andropause. Namun, bukan berarti setiap orang yang mengalami gejala seperti itu pasti mengalami andropause. Apalagi mengingat usia Anda baru 45 tahun, yang berarti jauh dari usia andropause pada umumnya.
Andropause yang sebenarnya hanya dialami oleh sedikit pria pada usia 60-an tahun. Tidak semua pria mengalami masa andropause, walaupun pada pria usia lanjut terjadi penurunan kadar hormon testosteron di dalam darah.

Pada usia pertengahan, seperti usia Anda saat ini, masalah yang terjadi ialah “krisis usia pertengahan”. Pada usia ini, tidak sedikit pria dan wanita yang mengalami krisis dalam kehidupan seksualnya. Pada usia ini orang merasa secara fisik tidak seperti dulu lagi karena mengalami perubahan kemunduran.
Pria yang merasakan itu sangat khawatir kehilangan kemampuan seksualnya. Karena itu, banyak pria yang kemudian ingin menguji kemampuan seksualnya dengan mencari wanita lain, yang jauh lebih muda.
Kalau ternyata kontak seksual dengan wanita lain itu memberi kepuasan yang diharap, ia akan menganggap ada sesuatu yang kurang pada istrinya.

Dan mudah dimengerti kalau pria itu kemudian terus melakukan kontak seksual dengan wanita itu. Meski begitu, bila kontak seksual yang semula hanya untuk uji coba itu berlanjut lebih jauh sampai melibatkan emosi yang dalam, terjadilah kemudian perkawinan yang kedua.

Jengkel Seks
Sekitar 20 persen pria dan wanita mengalami “fenomena seks yang padam” pada usia pertengahan. Fenomena ini muncul karena kejenuhan dan kejengkelan terhadap aktivitas seksual yang monoton.
Kejenuhan seksual merupakan salah satu penyebab awalnya. Bagi pasangan yang sudah lama menikah, kejemuan seksual memang sering muncul, yang disebabkan oleh monotoni, baik dalam hal suasana maupun perilaku seksual.

Bisa jadi masalah yang Anda alami adalah gejala “krisis usia pertengahan” yang disebabkan penurunan kemampuan fisik dan kejenuhan terhadap suasana monoton yang telah berlangsung sekian lama. Pada keadaan ini Anda tidak memerlukan pengobatan hormon (TSH) karena kadar hormon testoteron pada umumnya masih normal.

Namun, tentu diperlukan pemeriksaan untuk memastikan ada tidaknya gangguan fisik atau psikis yang mengakibatkan munculnya keluhan seperti yang Anda alami. Untuk mengetahui normal tidaknya kadar hormon testosteron, diperlukan pemeriksaan laboratorium.
Pengobatan hormon testosteron dapat Anda peroleh di dokter spesialis andrologi setelah mendapat pemeriksaan sebelumnya. Soal apakah Anda memang memerlukan pengobatan hormon atau tidak, ditentukan oleh hasil pemeriksaan yang benar.

Dipengaruhi Lima Faktor
Dorongan seksual dipengaruhi oleh lima faktor, antara lain :
  1. Hormon testosteron.
  2. Keadaan kesehatan tubuh.
  3. Faktor psikis.
  4. Rangsangan seksual dari luar, baik rangsangan fisik ataupun psikis.
  5. Pengalaman seksual sebelumnya.

Kalau faktor di atas mendukung, dorongan seksual menjadi kuat. Misalnya, bila rangsangan seksual diterima cukup baik dari pasangan, dorongan seksual kuat. Sebaliknya, bila faktor di atas menghambat, dorongan seksual lemah atau bahkan hilang. Sebagai contoh, bila keadaan kesehatan terganggu karena suatu penyakit, dorongan seksual menurun.
Kalau Anda merasakan dorongan seksual yang kuat, itu berarti faktor yang mempengaruhinya baik.

Mengingat usia Anda masih muda, hampir pasti keadaan kesehatan Anda baik, yang mendukung dorongan seksual. Jika Anda menikah belum lama, tentu secara psikis belum muncul kejenuhan terhadap situasi dalam relasi dengan istri. Berbeda kalau usia pernikahan sudah lebih lama, apalagi kalau tidak ada variasi situasi dalam relasi dengan istri.

Dengan dorongan seksual yang kuat, wajar bila Anda ingin sering melakukan hubungan seksual. Sayangnya istri merasa tidak sanggup, walaupun tidak menjelaskan mengapa istri seperti itu. Jadi, masalah yang Anda hadapi sebenarnya adalah kesenjangan seksual dengan istri.

Alasan Tersembunyi
Perlu diketahui mengapa istri “tidak sanggup”. Atau, adakah masalah tertentu di balik pengakuan “tidak sanggup” itu? Apakah istri Anda dapat merasakan kepuasan seksual selama ini?

Kalau tidak dapat mencapai kepuasan seksual, akan muncul kecenderungan enggan, bahkan menolak hubungan seksual. Namun, kalau dapat mencapai kepuasan seksual, muncul kecenderungan ingin melakukan hubungan seksual lebih sering. Karena itu, banyak istri yang dapat mencapai orgasme berkali-kali (multiple orgasm). Kemungkinan lain, kebugaran fisik istri kurang baik sehingga mudah lelah, lalu merasa tidak sanggup lagi.

Kalau ingin menekan dorongan seksual Anda, cobalah lakukan kegiatan fisik dan mental juga. Dengan keseimbangan kegiatan fisik dan mental, dorongan seksual pada umumnya dapat ditekan.
Upaya yang Anda lakukan mungkin hanya atau lebih banyak kegiatan fisik saja. Cobalah lakukan juga kegiatan yang menggunakan pikiran dan rasa. Dengan keseimbangan itu diharapkan dorongan seksual Anda dapat ditekan.

Tentu saja tidak dapat dikesampingkan kemungkinan Anda seorang hiperseksual. Untuk menentukan ini diperlukan konsultasi lebih jauh, apakah benar dorongan seksual dan perilaku seksual Anda memenuhi ketentuan pada hiperseksualitas.
Hal penting yang perlu Anda perhatikan ialah jangan memaksa istri bila dia menyatakan sudah tidak sanggup lagi. Kalau dipaksa dapat terjadi akibat buruk bagi kehidupan seksualnya kelak.

Referensi : Dari berbagai sumber yang kredibel,situs dalam dan luar negeri, majalah kesehatan.

Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, berbagilah informasi ini dengan teman dan saudara Anda melalui Share Link Media Sosial di bawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar